LAPORAN PRAKTEK LAPANG/MAGANG
PERTANIAN TERPADU: TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI
DI JOGLO TANI, DESA MANDUNGAN 1,
MARGOLUWIH, SAYEGAN, SLEMAN, YOGYAKARTA
OLEH:
GILANG SETIAWAN
E1J012031
![]() |
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015
RINGKASAN
PERTANIAN
TERPADU : TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI DI JOGLO TANI,
DESA MANDUNGAN 1, MARGOLUWIH, SAYEGAN, SLEMAN, YOGYAKARTA
Gilang
Setiawan. Program Studi Agroekoteknologi Jurusan Budidaya Pertanaian Fakultas
Pertanian Universitas Bengkulu
Praktek kerja lapangan atau magang
adalah kegiatan lansung di lapangan untuk mengaplikasikan teori yang dapat di
kelas. Dengan praktek kerja lapangan dapat membandingkan antara teori dengan
kenyataan di lapangan. Praktek kerja lapangan (PKL) ini berjudul pertanian
terpadu : teknik budidaya tanaman kedelai.
Praktek kerja lapangan ini bertujuan
untuk 1) memperoleh pengetahuan tentang cara budidaya kedelai; 2) mengetahui
persoalan yang timbul di lapangan mengenai teknik budidaya kedelai; 3) mengetahui
atau memahami proses pelaksanaan budidaya kedelai dari awal sampai panen dan
pasca panen; 4) mendapatkan pengalaman dibidang pertanian secara lansung,
khususnya mengenai teknik budidaya kedelai yang benar.
Pelaksanaan kerja praktek dilakasanakan pada tanggal 13 januari 2015 – 11
februari 2015. Lokasi kegiatan ini dilaksanakan di lahan ± 2000 m² yang bertempat di Joglo Tani, Desa Mandungan 1, Margoluwih,
Sayegan, Sleman, Yogyakarta.
KATA PENGANTAR
Assalamu
alaikum Wr. Wb.
Allhamdulillah, segala puji dan
syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan laporan magang atau praktik kerja lapangan.
Praktek kerja lapangan atau magang
dilaksanakan selama satu bulan. Judul praktek kerja lapangan “ Pertanian Terpadu: Teknik Budidaya Tanaman Kedelai di Joglo
Tani, Mandungan 1, Margoluwih, Sayegan, Sleman, Yogyakarta”. Magang ini
merupakan salah satu mata kuliah wajib Agroekoteknologi dengan kode AGT-400 dan
jumlah SKS 2. Magang ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk
mencapai gelar sarjana strata satu jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu.
Penulisan laporan magang berdasarkan
kegiatan yang dilaksanakan di lapangan. Laporan ini dapat terselesaikan berkat
bimbingan dan bantuan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menucapkan terima
kasih kepada:
1.
Bapak
T.O Soeprapto sebagai pimpinan di Joglo Tani.
2.
Mas
Bagus Septiawan Nugraha dan Mas Titis Nugraha sebagai pembimbing lapangan.
3.
Sahabat
joglo dan teman seperjuangan magang.
4.
Bapak
Ir.
Marwanto, M.Sc.PhD
sebagai pembimbing magang.
5.
Kedua
orang tua saya yang telah memberikan do’a dan dukungan selama magang dan penyelesain laporan
ini.
6.
Semua pihak yang turut serta dalam penyelesaian laporan magang ini.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun laporan ini jauh
dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini. Dan semoga laporan ini
bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih.
Wasalamualaikum Wr. Wb.
Bengkulu, Maret 2015
Penulis
DAFTAR ISI
|
HALAMAN
PENGESAHAN.......................................................................
|
i
|
|||
|
RINGKASAN...............................................................................................
|
ii
|
|||
|
KATA
PENGANTAR..................................................................................
|
iii
|
|||
|
DAFTAR ISI.................................................................................................
|
iv
|
|||
|
DAFTAR GAMBAR....................................................................................
DAFTAR
TABEL.........................................................................................
DAFTAR
LAMPIRAN.................................................................................
|
v
v
v
|
|||
|
I
|
PENDAHULUAN...............................................................................
|
1
|
||
|
|
A.
|
Latar
Belakang...........................................................................
|
1
|
|
|
|
B.
|
Tujuan........................................................................................
|
2
|
|
|
|
C.
|
Manfaat......................................................................................
|
3
|
|
|
II
|
GAMBARAN UMUM
DI JOGLO TANI...........................................
|
4
|
||
|
|
A.
|
Sejarah
Berdirinya Joglo Tani....................................................
|
4
|
|
|
|
|
Ø
|
Latar
Belakang Berdirinya Perusahaan...............................
|
4
|
|
|
|
Ø
|
Tujuan
Perusahaan..............................................................
|
4
|
|
|
|
Ø
|
Visi Misi
Perusahaan..........................................................
|
5
|
|
|
B.
|
Struktur
Organisasi.....................................................................
|
6
|
|
|
|
C.
|
Sistem
Manajemen Produksi......................................................
|
6
|
|
|
|
D.
|
Sistem Tata
Kelola Tenaga Kerja..............................................
|
7
|
|
|
III
|
ANALISIS
SITUASI DAN PERMASALAHAN...............................
|
10
|
||
|
IV
|
METODE MAGANG..........................................................................
|
11
|
||
|
|
A.
|
Waktu dan
Tempat.....................................................................
|
11
|
|
|
|
B.
|
Tahapan
Pelaksanaan.................................................................
|
11
|
|
|
|
C.
|
Mekanisme
Pelaksanaan............................................................
|
11
|
|
|
V
|
HASIL DAN
PEMBAHASAN PRAKTEK LAPANGAN.................
|
13
|
||
|
VI
|
SIMPULAN DAN
SARAN...........................................................
|
27
|
||
|
DAFTAR
PUSTAKA
|
|
|||
|
DAFTAR
LAMPIRAN
|
|
|||
DAFTAR GAMBAR
|
Gambar
1a. Materi Pra-Budidaya.................................................................
|
13
|
|
Gambar 2a. Pengukuran Struktur dan Tekstur Tanah...................................
|
14
|
|
Gambar 3a. Alat
Pengukur Kemampuan Tanah Menahan Air.....................
|
15
|
|
Gambar 4a. Alat
Ukur Kemampuan Tanah Menahan Nutrisi......................
|
16
|
|
Gambar 5a. Alat ET......................................................................................
|
17
|
|
Gambar 6a. Alat Ukur
Aerasi Tanah............................................................
|
17
|
|
Gambar 1b. Penolahan Tanah Tahap I…......................................................
|
19
|
|
Gambar 2b. Pengolahan Tanah Tahap II......................................................
|
19
|
|
Gambar 3b. Bedengan dan Siringan.............................................................
|
20
|
|
Gambar 4b. Hasil Seleksi Biji Kedelai.........................................................
|
20
|
|
Gambar 5b.
Penugalan..................................................................................
|
21
|
|
Gambar 6b. Penanaman Benih Kedelai........................................................
|
21
|
|
Gambar 1c. Kandang Itik Petelur.................................................................
|
24
|
DAFTAR TABEL
|
Tabel 1. Luas Panen- Produktivitas- Produksi Tanaman Kedelai
Indonesia.......................................................................................
|
1
|
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kedelai
(Glycine max L) merupakan sumber
protein nabati utama bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Sampai saat ini
kedelai masih menjadi salah satu komoditas pangan yang sangat penting di
Indonesia (Rukmi, 2009). Kebutuhan kedelai dari tahun ke tahun selalu
meningkat. Kedelai, selain sebagai bahan makanan, juga digunakan untuk bahan
baku industri dan pakan ternak. Sehingga, komoditas ini selalu dibutuhkan dalam
jumlah banyak oleh masyarakat (Cahyono, 2007).
Badan
Pusat Statisitik (BPS) sebagai salah satu badan survai menghitung produksi
kedelai indonesia mulai dari tahun 2008 sampai 2013 sebagai berikut :
Tabel 1. Luas
Panen- Produktivitas- Produksi Tanaman Kedelai Indonesia
|
Negara
|
Jenis Tanaman
|
Tahun
|
Luas Panen (Ha)
|
Produktivitas (Ku/Ha)
|
Produksi (Ton)
|
|
Indonesia
|
Kedelai
|
2008
|
590956.00
|
13.13
|
775710.00
|
|
Indonesia
|
Kedelai
|
2009
|
722791.00
|
13.48
|
974512.00
|
|
Indonesia
|
Kedelai
|
2010
|
660823.00
|
13.73
|
907031.00
|
|
Indonesia
|
Kedelai
|
2011
|
622254.00
|
13.68
|
851286.00
|
|
Indonesia
|
Kedelai
|
2012
|
567624.00
|
14.85
|
843153.00
|
|
Indonesia
|
Kedelai
|
2013
|
550793.00
|
14.16
|
779992.00
|
Sumber
: BPS 2015
Ketidak seimbangan
antara kemampuan untuk memproduksi kedelai di dalam negeri dengan kenaikan
permintaan, sebenarnya telah terjadi dalam kurun waktu cukup lama. Sebagai
contoh, selama periode 1969-1985 kenaikan produksi kedelai telah mencapai angka
4,75%, tetapi angka tersebut belum mampu mencukupi karena selama periode yang
sama terjadi lonjakan permintaan kedelai per tahun yang lebih besar yaitu 5,74%
(Sarwanto, 2008).
Produksi
kedelai dapat ditingkatkan dengan berbagai upaya seperti pengolahan
tanah, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pengairan dan pemeliharaan
tanaman secara baik, penggunaan mulsa jerami, pemberian Pupuk Pelengkap Cair
(PPC), pemberian Zat Perangsang Tumbuh (ZPT), dan perlakuan inokulasi
Rhizobium (Septiatin, 2008). Usaha lain untuk meningkatkan produksi
kedelai antara lain perluasan areal tanam dengan memanfaatkan
potensi lahan kering
dan lahan tidur, perbaikan
cara bercocok tanam yaitu pengolahan tanah yang baik dan penggunaan
varietas unggul (Panggabean, 2007).
Peningkatan
produksi kedelai memiliki kendala yang beragam. Salah satunya, yaitu konversi
lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian akan mempengaruhi luas areal pertanaman
kedelai secara nasional (Darman, 2008). Kendala lain adalah susahnya mendapat
pupuk, pestisida yang mahal dan pengetahuan tentang budidaya kedelai yang
dimiliki petani masih minim.
Produktifitas kedelai
dapat terwujud apabila petani mempunyai pengetahuan yang umum dan khusus
tentang teknik budidaya kedelai. Agar petani dapat mengatasi
permasalahan-permasalahan yang terjadi pada tanaman kedelai, sehingga dalam
kerja praktek lapangan atau magang mengambil judul “PERTANIAN TERPADU: TEKNIK
BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI” untuk dapat
belajar teknik dan cara budidaya tanaman
kedelai dengan benar.
B.
Tujuan
Tujuan praktek kerja
lapangan adala sebagai berikut :
1. Memperoleh
pengetahuan tentang cara budidaya kedelai di Joglo Tani.
2. Mengetahui
persoalan yang timbul di lapangan mengenai teknik budidaya kedelai di Joglo
Tani.
3. Mengetahui
atau memahami proses pelaksanaan budidaya kedelai dari awal sampai panen dan
pasca panen.
4. Mendapatkan
pengalaman dibidang pertanian secara langsung, khususnya mengenai teknik
budidaya kedelai yang benar.
C.
Manfaat
Manfaat praktek kerja lapangan adalah sebagai berikut :
1. Bagi
Mahasiswa
a.
Menambah pengetahuan bagi
mahasiswa dengan mengikuti kerja lapangan.
b.
Memperoleh pengalaman dan
keterampilan cara budidaya kedelai yang baik di Joglo Tani.
2. Bagi
Pengembangan Ilmu
Dengan mengetahui dan
mapu memecahkan serta dapat menganalisis permasalahan-permasalah di lapangan,
akan memberikan pengetahuan tentang budidaya kedelai.
3. Bagi
Lembaga Tempat Kerja Praktek
a.
Ikut membantu dalam
mengidentifikasi permasalahan yang timbul di lapangan serta alternatif
pencegahannya.
b.
Membantu dengan
melibatkan diri pada kegiatan yang ada di tempat kerja praktek.
II.
GAMBARAN UMUM DI JOGLO TANI
A.
Sejarah Berdirinya Joglo Tani
Ø
Latar Belakang Berdirinya Joglo Tani
Joglo Tani merupakan wahana pembelajaran pertanian terpadu yang didirikan
oleh T.O Soeprapto dan Sunarno (Timbul) pada tanggal 19 Januari 2008 di Dusun
Mandungan, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Propinsi D.I. Yogyakarta.
Joglo Tani sebagai lembaga yang berdiri dari hasil diskusi dan proses panjang
serta merupakan kumpulan masyarakat tani dan pemerhati pertanian yang
berpengalam menjadi fasilitator masyarakat dalam mengembangkan pertanian
terpadu yang berbasis konservasi lingkungan dan inisiatif masyarakat lokal.
Anggota Joglo Tani adalah orang-orang yang berkomitmen untuk meningkatkan
kapasitas petani untuk menjadi manajer mandiri serta selalu konsisten dalam
mengembangkan pendidikan masyarakat yang partisipatif.
Joglo Tani merupakan nama yang berasal dari
singkatan Ojo Gelo Tani yang artinya
petani janganlah selalu kecewa, arti dari kecewa yaitu petani yang selalu
dipermainkan oleh harga jual hasil taninya yang selalu berubah dan cenderung
merugikan petani dan membuat kecewa.
Bangunan Joglo tani berdiri ditengah kawasan
model pertanian terpadu. Bangunan yang berbentuk joglo ini digunakan sebagai
pusat aktifitas. Kawasan ini merupakan rumah terbuka bagi kaum tani untuk
belajar dengan alam dan dinamika sosial. Empat pilar joglo dimaknai sebagai
prinsip pengembangan perikehidupan yaitu; Berdoa, Belajar, Berkarya, dan
Bersosial.
Ø
Tujuan Perusahaan
ü
Mengelola segala bentuk bahan organik sehingga tidak terbuang percuma
dan dapat dimanfaatkan untuk bahan baku pangan / masukan bagi pengembangan
usahatani terpadu.
ü
Menyediakan berbagai bentuk kompos, bahan baku nutrisi untuk tanaman,
ternak, ikan dan bahan lain yang bersifat probiotik.
ü
Menyediakan jasa konsultasi dan pelatihan di bidang pengelolaan
pertanian terpadu berbasis potensi sumberdaya lokal yang mencakup sektor hilir
dan hulu.
ü
Menyediakan ruang publik untuk pembelajaran dan pengembangan inovasi
dalam bentuk nyata.
Ø
Visi dan Misi Perusahaan
VISI
Terwujudnya “Desa Berdaulat Pangan” melalui proses
perubahan perilaku, penyusunan tata ruang, pembangunan sistem dan penguatan
kelembagaan masyarakat desa.
MISI
ü Membangun sistem
pertanian terpadu dengan keterkaitan sektor hulu sampai hilir usaha untuk membangun sistem mandiri pangan serta
mendorong terbentuknya pola konsumsi masyarakat yang bersumber dari produk
lokal.
ü Meningkatkan pendapatan
keluarga tani melalui aneka usaha berbasis potensi desa dan pola kerjasama
pengelolaan usaha.
ü Mendorong meningkatnya
derajat kesehatan masyarakat melalui proses perubahan perilaku bersih dan sehat
dengan penerapan model desa bersih dan hijau.
ü Membangun sebuah kawasan yang berfungsi sebagai wisata pendidikan
pertanian, perikehidupan desa, dan untuk memberi peluang pasar produk dan jasa.
ü Menyusun dan
mengembangkan model pendekatan pendidikan masyarakat untuk membangun karakter
pengusaha dan pengembang usahatani mandiri.
ü Mendorong kaum perempuan
dan kaum muda terlibat secara aktif dalam usaha pertanian dan pengelolaan
lingkungan.
ü Menyediakan wadah
komunikasi dan tukar pengalaman antar kelompok masyarakat dan membentuk
fasilitator dan organizer masyarakat.
B.
Struktur Organisasi
|
KETUA
T.O
SUPRAPTO
|
|
BENDAHARA
AMBORO
WAHYU S.
|
|
SEKERTARIS
SUNARNO
|
ü Unit Bahan : Produksi Bowo
ü Unit Proses Produksi : Ay Suharyono
ü Unit Paska Produksi : Johan Arifin
ü Unit Pelayanan Jasa : Sukirman
ü Unit Penguatan Modal : Hery Johandi
ü Divisi Rumah Tangga Koordinator : Sudarmaji
ü Unit Finansial Istri : Wandari
ü Unit Ketenaga kerjaan : Abu Hanifah
C.
Sistem Menejemen Organisasi
Unit Usaha
Unit usaha menjadi
bagian terpenting dari aktivitas dan pengembangan koperasi. Sebagai dapur yang
menghidupi secara mandiri, unit usaha
menjalankan aneka usaha perdagangan dan pelayanan jasa.
a.
Pengelolaan Lahan
ü
Pengelolaan lahan di sekitar bangunan Joglo, dengan
penerapan bercocok tanam sistem ”Dakon”. Selain untuk sarana belajar, hasil
yang diperoleh untuk mendukung operasional koperasi secara umum.
ü
Pengelolaan lahan untuk usaha peternakan itik,
sapi, kambing, kelinci. Dan perikanan. Selain keuntungan berupa produk langsung ternak, kotoran
ternak dikelola untuk menjadi sumber nutrisi lahan yang dikelola koperasi.
ü
Pengelolaan lahan seluas 1 ha yang disewa koperasi
untuk usaha bercocok tanam padi dan sayuran dataran rendah.
ü
Pengelolaan lahan untuk penyediaan bibit tanaman
buah-buahan, tanaman keras, dan tanaman hias.
b.
Penjualan Produk Pertanian
ü
Pemasaran produk pertanian organik seperti beras
dan sayuran organik.
ü
Pemasaran aneka olahan produk pertanian organik
yang dihasilkan oleh masyarakat.
ü
Penyediaan makanan dan minuman dengan menu lokal
untuk para pengunjung joglo dan masyarakat sekitar.
c.
Penyediaan Sarana Produksi
ü
Penyediaan aneka benih atau bibit seperti benih
padi khususnya varietas unggul lokal, aneka bibit tanaman buahan dan tanaman
keras, dan tanaman hias.
ü
Penyediaan bibit itik, kelinci dan ikan.
ü
Penyediaan makanan ternak seperti itik (sudah dalam
bentuk campuran).
ü
Penyediaan sarana produksi pertanian organik,
seperti; kompos, pupuk cair, zat pengatur tumbuh dan pestisida nabati.
d.
Pelayanan Jasa Pertanian
ü
Penyediaan media komunikasi termasuk advokasi
program dalam bentuk kaos, buku, dan audio visual, brosur, leaflet, buku
panduan, poster dan banner.
ü
Penyewaan kendaraan yang berupa kolt dan truk untuk kepentingan
pengangkutan hasil produksi pertanian pada para petani sekitar yang
membutuhkan.
D.
Sistem Tata Kelola Tenaga Kerja
Bidang kerja
1.
Unit Keswadayaan
a.
Kemitraan
Selain penggalangan dana dari anggota, juga
dilakukan secara eksternal melalui mekanisme kerjasama dan kemitraan dengan
lembaga lain, tidak menerima
kerjasama dalam bentuk bapak atau anak angkat yang memungkinkan terjadinya pola
penguasaan. Bentuk kerjasama dan kemitraan antara lain;
ü
Pemberian hibah tanpa ada ikatan kepentingan di
luar visi dan misi.
ü
Kolaborasi permanen dengan lembaga lain yang hanya
mengikat pada satu program kerja.
ü
Kolaborasi non permanen (insidential) dengan
lembaga lain dengan batas waktu tertentu.
ü
Pemberian modal usaha dengan perjanjian yang jelas
dan tidak ditempeli kepentingan.
b.
Kerjasama Progam
Koperasi secara terbuka melakukan kerjasama dengan
lembaga lain untuk menjalankan program yang sesuai dengan program yang telah
ditetapkan. Selain itu juga menerima
program kerjasama dalam bentuk sponsorship pada kegiatan atau event dengan
batas waktu tertentu. Bentuk kerjasama
program antara lain:
ü
Purchase Order atau kontrak kerja tertentu.
ü
Small grant atau hibah kecil untuk menjalankan program
tertentu.
ü
Sponsor tetap maupun tidak tetap dalam melakukan
kegiatan tertentu.
c.
Pendampingan Masyarakat Lokal
Sebagai bentuk aksi nyata mengembangkan program
kerjanya, melakukan pendampingan pada masyarakat setempat berdasarkan
persetujuan bersama. Model yang dikembangkan
secara bertahap dan dalam skala terbatas diterapkan di masyarakat setempat.
Pendampingan yang diberikan dalam bentuk:
ü
Fasilitator pemberdayaan masyarakat baik dalam aspek teknis maupun non
teknis.
ü
Pemberian sarana terbatas untuk menerapkan model yang dikembangkan.
ü
Membantu membangun sistem kelembagaan masyarakat.
ü
Pinjaman penguatan modal ke anggota dan usaha
bersama.
2.
Unit Pendidikan
a.
Pendidikan Pertanian Mandiri
Paket atau materi pendidikan pertanian
mandiri, antara lain:
ü
Pertanian terpadu berbasis potensi lokal.
ü
Sistem usaha tani organik berorientasi kaidah
konsevasi lingkungan, derajat kesehatan dan keuntungan ekonomi.
ü
Dasar-dasar ekologi tanah dan air.
ü
Pengelolaan benih termasuk teknik penyilangan.
ü
Sekolah lapangan dengan berbagai tema.
b.
Laboratorium Fasilitator Masarakat
Paket atau materi pelatihan, antara lain:
ü
Dasar-dasar pendidikan orang dewasa.
ü
Metode kepemanduan.
ü
Teknik motivasi dan membangun pikiran.
ü
Pengembangan Sains Masyarakat.
ü
Pengorganisasian Masyarakat.
ü
Perencanaan dan Monitoring Partisipatif.
c.
Pendidikan Konservasi Lingkungan
Pelayanan pendidikan konsevasi lingkungan
seperti:
ü
Pengelolaan Kawasan Konservasi dengan pendekatan
Model Desa Konsevasi.
ü
Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim.
ü
Pengelolaan Daerah Aliran Air termasuk perlindungan
sumber air.
ü
Pengelolaan Sanitasi Berbasis Masyarakat meliputi
pengelolaan sampah padat, cair, dan perilaku bersih dan sehat.
ü
Pendidikan lingkungan untuk anak sekolah.
d.
Wisata Alam Pedesaan
Pelayanan wisata alam dan pedesaan seperti:
ü
Out bond bernuansa pertanian dan pedesaan.
ü
Penyelenggaraan even terkait tradisi pedesaan dan
lingkungan.
ü
Pelatihan pemandu wisata pendidikan lingkungan.
ü
Wisata Kuliner dan produk pertanian.
III.
ANALISIS SITUASI DAN PERMASALAHAN
A.
Peralatan yang digunakan selalu sederhana, seperti untuk mengukur pH
tanah menggunakan kunyit, mengetahui kandungan mineral dalam tanah menggunakan
peralatan yang sederhana sehingga tidak dapat mengetahui apakah mineral yang
terkandung dalam tanah berbahaya atau tidak bagi tanaman.
B.
Benih yang digunakan kebanyakan dibeli di toko pertanian belum hasil
dari Joglo Tani secara lansung atau belum menggunakan benih dari varietas
lokal.
C.
Benih yang digunakan sudah kadaluarsa, sehingga waktu ditanam banyak
yang tidak tumbuh.
D.
Pengendalian hama dan penyakit menggunakan bahan-bahan organik
membutuhkan proses yang panjang, sehingga jika ada ledakan serangan hama dan
penyakit tidak dapat diatasi secara cepat.
IV.
METODE MAGANG
A.
Waktu dan Tempat
Praktek kerja lapangan (PKL) atau magang
berlansung dari tanggal 13 Januari – 11 Febuari 2015. Kegiatan magang ini
dilaksanakan di Joglo Tani, Dusun Mandungan , Desa Margoluwih, Sayegan, Sleman.
Luas lahan total ± 8000 m², luas bangunan ± 1.700 m². Terletak pada ketinggian
tempat ± 150 meter dari permukaan laut.
B.
Tahap Pelaksanaan
Tahapan pelaksanaan praktek kerja lapangan meliputi :
a.
Pra Budidaya
- Ekologi tanah..
- Pembuatan pupuk organik cair (POC)
- Pembuatan pupuk organik padat(POP)
- Pembuatan pestisida nabati
b.
Aksi Budidaya
- Pengolahan tanah
- Pembuatan bedengan
- Seleksi benih
- Penanaman kedelai
- Perawatan
- Pengendalian hama dan penyakit tanaman
- Panen
c.
Pasca Panen
- Penjemuran
- Sortasi
- Pengepakan
C.
Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan praktek kerja lapangan atau magang terdiri dari :
a.
Kegiatan Lansung
Menerapkan atau melakukan proses-proses budidaya kedelai lansung dengan
arahan pembimbing lapangan.
b.
Survai
Melihat secara lansung proses budidaya kedelai yang ada di joglo tani,
lahan produksi masyarakat dan penelitian mahasiswa Institut Pertanian (INTAN) Jogjakarta.
c.
Evaluasi
Melakukan pembahasan permasalahan-permasalahan yang ditemui di lapangan
bersama pembimbing lapangan. Evaluasi termasuk membahas kemajuan kegiatan
praktek kerja Lapangan.
V.
HASIL DAN PEMBAHASAN PRAKTEK LAPANGAN
5.1
Hasil
5.1.1
Kegiatan Budidaya Kedelai (Utama)
A.
Pra Budidaya
a.
Ekologi Tanah
Ekologi tanah adalah rumah tangga tanah,
kesuluruhan komponen penyusun tanah mencangkup unsur fisik, kimia dan biologi
tanah. Komponen fisik tanah seperti struktur, teksur, kemampuan tanah menahan
air, dan kemampuan tanah menahan nutrisi. Komponen kimia seperti kapasitas
tukar kation, kapasitas tukar anion, kandungan bahan organik tanah, dan pH
tanah. Komponen biologi meliputi macam-macam mikroorganisme dan organisme
tanah.
Gambar 1a. Materi Pra-Budidaya
Ekologi tanah merupakan pengetahuan dasar
yang penting sebelum melakukan budidaya pertanian. Secara umum ekologi tanah
dapat diteliti di laboratorium dengan menggunakan sampel tanah pada lahan yang
akan digunakan sebagai lahan budidaya pertanian. Tetapi, pengetahuan tentang
ekologi tanah pada lahan pertanian dapat diketahui dengan mudah di Joglo Tani.
Untuk mengetahui keadaan ekologi, di Joglo Tani dibuat alat yang dapat
digunakan dalam melakukan sidik cepat untuk mengetahui struktur tanah, tekstur
tanah, kemampuan menahan air, kemampuan menahan nutrisi, pH tanah, dan
kandungan bahan mineral tanah.
1.
Sturktur tanah dan Teksur tanah
Teksur tanah ditentukan dengan menghitung
besaran presentasi bahan tanah. Tanah yang memiliki kandungan pasir dalam
jumlah banyak disebut tanah berpasir, tanah yang memiliki kandungan liat dalam
jumlah banyak disebut tanah berliat sedangkan tanah yang memiliki kandungan
debu terbanyak disebut tanah bebu. Penentuan struktur dan tekstur tanah tepat
dan cepat yang diterapkan di Joglo Tani adalah menggunakan alat sederhana,
yaitu plastik putih panjang dengan diameter sekitar 10 cm dengan panjang
plastik 100 cm. Cara kerja dari alat ini adalah pertama, tentukan tanah yang
akan digunakan sebagai sampel dan mencangkulnya sedalam 50 cm. Kedua, mengikat
pangkal bawah plastik dan memasukan tanah kedalam plastik setinggi 30 cm dan
tambahkan air. Menggantung plastik pada tiang dan mendiamkannya hingga air
bersih. Terakhir, mengamati komponen penyusun tanah yang ada pada endapan
plastik bagian bawah.
Gambar 2a. Pengukuran Struktur dan Tekstur
Tanah
2.
Kemampuan menahan air
Ketersedian air bagi tanaman bergantung pada kapasitas lapang pada
tanah. Jika ketersedian air bagi tanaman tercukupi, maka pertumbuhan dan
perkembangan tanaman akan berjalan dengan baik. Air dapat tersedia dalam
keadaan lapang dikarenakan kemampuan tanah menahan air atau mengikat air sangat
baik.
Kemampuan tanah menahan air dapat diketahui dengan mudah. Inilah yang
diterapkan di joglo tani. Bermodal dua botol plasitk ukuran 1 Liter, jenis
tanah yang memiliki kemampuan untuk mengikat tanah yang baik dapat ditentukan.
Secara nyata, air mengalir secara vertikal yaitu dari atas menuju ke bawah. Hal
ini dapat dilihat dari saat hujan turun, air hujan akan mengalir dari lapisan
tanah atas menuju lapisan tanah bawah. Konsep ini yang digunakan dalam
pembuatan alat sederhana di Joglo Tani. Air yang diletakan dalam alat (botol
plastik) akan memperlihatkan sebarapa besar air yang dilewatkan tanah dan
terikat oleh tanah.
Gambar 3a. Alat Pengukur Kemampuan Tanah
Menahan Air
3.
Kemampuan menahan nutrisi
Nutrisi adalah makanan atau suplemen yang dibutuhkan tanaman untuk dapat
tumbuh dan berkembang. Tanaman mendapatkan nutrisi melalui proses penyerapan
yang dilakukan oleh akar. Nutrisi dapat tersedia secara alami di tanah ataupun
dapat disediakan dengan penambahan nutrisi melalui proses pemupukan.
Pemupukan bertujuan untuk menambah atau menyediakan kebutuhan nutrisi
bagi tanaman. Pemupukan terkadang dapat menjadi percuma karena proses
pemupukannya dilakukan tidak secara benar. Selain itu, jenis-jenis pupuk
terkadang mudah larut oleh air dan menguap secara cepat. Pemupukan akan efektif
apabila jenis pupuk yang ditambahkan pada tanah dapat berikatan. Tidak semua
tanah dapat menahan nutrisi secara baik, beberapa tanah kemampuan menahan
nutrisinya buruk.
Pengukuran tentang kemampuan tanah menahan nutrisi yang ada di Joglo
Tani dapat diperagakan dengan simpel dan menarik. Alat ukur yang digunakan
menggambarkan proses pemupukan dan sebarapa besar kandungan pupuk yang
tertinggal di dalam tanah. Alat yang digunakan sama dengan alat ukur pada
kemampuan tanah menahan air.
Gambar 4a. Alat Ukur Kemampuan Tanah Menahan
Nutrisi
4.
PH tanah
PH tanah terdiri dari asam, basa dan netral. Tanah yang banyak
mengandung ion H+ disebut tanah asam, sedangkan tanah yang banyak
mengandung ion OH- disebut tanah basah. Pengujian pH tanah di Joglo
Tani menggunkan indikator kunyit. Kunyit digunakan karena nilai pHnya mendekati
netral.
Tanah yang digunakan sebagai sampel diambil dengan kedalaman 30 cm.
Tanah tersebut direndam dalam air sampai mengendap, kemudian air dibuang.
Kunyit yang utuh kemudian dipotong menjadi 2 bagian. Satu bagian dimasukan
kedalam tanah selama 20 menit, dan satunya lagi diguanakan sebagai pembanding. jika
warna kunyit memudar maka pH tanah asam, dan jika warna kunyit menjadi lebih
terang maka pH tanah basa.
5.
Kandungan bahan mineral tanah
Alat ET
dibuat menggunakan bahan bambu, bola lampu, kabel listrik, colokkan dan piteng.
Alat ini kemudian dirangkai menjadi alat yang digunakan untuk menguji kandungan
bahan mineral. Sampel tanah yang akan diuji dengan alat ini sebelumnya diberi
air, kemudian baru alat dimasukan kedalam sampel tanah tersebut. Indikator ada
tidaknya kandungan bahan mineral tanah adalah apabila lampu menyala. Jika lampu
menyala terang, maka kandungan mineral dalam tanah tinggi.
Gambar 5a. Alat ET
6. Aerasi
Untuk mengetahui aerasi
tanah yaitu dengan cara botol aqua di lubangi, tutup bortol diberi paralon dan
diikat kuat, kemudian letakkan botol berisi tanah di dalam wadah berisi air,
balon ditiup, semakin cepat balon kempes berarti pori-pori tanah lebih besar,
jika pada tanah basah maka pori-pori tanah kecil dan biasanya tanah tersebut
kurang bagus untuk pertanian.
Gambar
6a. Alat Ukur Aerasi Tanah
b.
Pembuatan Pupuk Organik Cair
Bahan
yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik cair yaitu :
ü
N = urine kelinci, legum, kotoran ayam dan klereside
ü
P = buah-buahan dan sayuran yang
sudah busuk, kotoran kelelawar (guano)
ü
K = air rendaman sabut kelapa
Bahan
tambahan : glukosa/tetes tebu
N, P dan
K difermentasi satu persatu. Proses ini berlansung selama 3 minggu, pengadukan
dilakukan 3 hari sekali. Setiap
pengadukan ditambahkan glukosa atau air tetes tebu secukupnya. Pupuk
organik cari yang digunakan untuk meransang buah dapat menggunakan bahan yaitu keong mas, air
kelapa, tetes tebu, dan air leri.
c.
Pembuatan Pupuk Organik Padat
Pupuk organik padat dibuat menggunakan
bahan-bahan utaman sebagai berikut:
Unsur nitrogen (N) : kotoran hewan, klereside 40%
Unsur fosfor (P) : guano, daun pisang 20 %
Unsur kalaium (K) : daun bambu, batang pisang 20 %
Bahan tambahan: air rebusan umbi empon-empon, EM4, dolomit, abu dapur 20%.
Bahan-bahan
pembuat pupuk organik padat tersebut dicacah hingga menjadi potongan kecil.
Kemudia, dicampur hingga merata dan diaduk setiap 3 hari sekali. Setiap
pengadukan ditambahkan EM4, dolomit, abu dapur dan air empon-empon.
Pembuatan EM4 dapat menggunakan bahan-bahan
seperti tempe sebagai penghancur daun, nanas
sebagai pelapuk batang, pisang untuk pencernaan dan bawang merah sebagai
penghancur lemak. Cara pembuatannya adalah awalnya semua bahan dicacah,
kemudian dimasukkan ke dalam botol aqua serta ditambah 1 liter air dan 2 sendok
gula. Botol selanjutnya ditutup rapat. Tutup
botol di buka sebentar setiap harinya, setelah EM4 terbentuk maka dimasukkan 1
tutup botol kedalam pupuk organik padat, N, P, K (fermentasi).
d.
Pembuatan peptisida nabati
Pestisida nabati dapa dibuat dari bahan-bahan
seperti kulit, buah dan daun pucung, daun sirsak, daun mindi, brotowali dan
gadung. Alat yang dala pembuatan pestisida ini yaitu botol air mineral 1,5
liter, penumbuk dan pengaduk.
Proses
pembuatan pestisida ini dimulai dari semua bahan di tumbuk, kemudian masing-masing
bahan yang sudah halus di masukkan ke dalam botol. Setelah itu, botol diisi air
meineral sampai penuh dan di fermentasi selama 1-2 hari. Setalah 2 hari
disaring dan dicampurkan kedalam tabung, lalu di aplikasikan ke tanaman dengan
dosis 10 ml/liter. 10 ml tersebut untuk masing-masing jenis atau bahan
pestisida.
B.
Aksi Budidaya
a. Pengolahan tanah
Gambar 1b. Pengolahan Tanah Tahap I Gambar 2b. Pengolahan Tanah Tahap II
b. Pembuatan bedengan
Bedengan yang digunakan memiliki ukuran
panjang 5 m dan lebar 1,5 m. Ketebalan bedengan 20-30 cm. Tanah yang telah
digemburkan pada proses pengolahan tanah kemudian dibentuk menjadi bedengan.
Pada bagian tengah bedengan dibuat siringan yang berfungsi untuk meletakan
pupuk dasar. Pupuk dasar yang digunanak yaitu kompos, hijauan, atau pupuk
kandang yang telah jadi. Pemberian pupuk dasar ini bertujuan untuk menambah
kandungan unsur hara didalam tanah.
Gambar 3b. Bedengan dan Siringan
c. Seleksi benih
Untuk mendapatkan hasil
panen yang baik, maka benih yang digunakan harus yang berkualitas baik, artinya
benih mempunyai daya tumbuh yang besar dan seragam, tidak tercemar dengan varietas-varietas
lainnya, bersih dari kotoran, dan tidak terinfeksi dengan hama penyakit. Secara
visual benih yang baik dapat diamati dari ukuran, bentuk, dan warna.
Gambar 4b. Hasil Seleksi Biji Kedelai
d. Penanaman kedelai
Penanaman dilakukan setelah lahan
siap untuk ditanam. Benih kedelai yang akan ditanam adalah benih yang telah
melewati proses seleksi. Jarak tanam budidaya kedelai adalah 20 x 20 cm. Lubang tanam dibuat dengan cara penuggalan
sedalam 1 – 2 cm. Penanaman biji 2-3 dalam satu lubang tanam. Setelah ditanam,
kemudian lubang ditutup.
Gambar 5b. Penugalan Gambar 6b. Penanaman Benih
Kedelai
e. Perawatan
Benih kedelai akan mulai
tumbuh setelah 5-6 hari. Penyulaman dilakukan apabila ada benih yang tidak
tumbuh dan dilakukan pada sore hari agar tanaman tidak layu. Penyulaman dapat
menggunakan biji baru ataupun dengan tanaman cabutan.
Penyiangan dapat dilakukan
setelah tanaman kedelai berumur 2 sampai 3 minggu untuk penyiangan yang pertama
dan 6 minggu setelah tanam untuk penyiangan yang keduai. Penyiangan dilakukan
untuk menghindari adanya kompetisi antara gulma dengan tanaman kedelai.
Kedelai menghendaki tanah
dalam keadaan basah tetapi tidak becek. Keadaan seperti ini disebut keadaan
lapang. Untuk menjaga kelembapan maka dilakukan penyiraman. Penyiraman dapat
dilakukan pada pagi ataupun sore hari.
Penyiraman dilakukan mulai dari masa pertumbuhan hingga pembentukan
polong. Penyiraman mulai dikurangi apabila polong telah terisi penuh.
f. Pengendalian hama dan penyakit tanaman
Pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan
pada budidaya kedelai joglo tani menggunakan pestisida nabati. Pengendalian
dapat berupa preventif artinya sebelum terjadi serangan ataupun pengendalian
dilakukan setelah serangan telah terjadi.
g. Panen
Panen kedelai dilakukan apa
bila tanaman kedelai telah memiliki cari-ciri seperti daun sudah menguning, buah
mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau
polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat. Umur panen
kedelai yang akan digunakan sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75-100
hari, sedangkan untuk dijadikan benih dipetik pada umur 100-110 hari agar
kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata.
Pemanenan di joglo dapat
dilakukan dengan dua cara tergantung dengan kondisi tanahnya. Jika tanah
riangan dan berpasir makan cara yang digunakan adalah pencabutan. Sedangkan
jika tanah dalam keadaan keras, pemanenan dilakukan dengan cara pemotongan
menggunakan sabit yang tajam. Pemanenan dengan cara memotong bisa meningkatkan
kesuburan tanah, karena akar dengan bintil-bintilnya yang menyimpan banyak
senyawa nitrat tidak ikut tercabut, tapi tertinggal di dalam tanah.
C.
Pasca Budidaya
a. Penjemuran
Penjemuran polong kedelai
dijoglo tani dilakukan selama 3 hari diatas terpal ataupun lantai semen. Lama
penjemuran tersebut dilakukan apabila cuaca cerah. Penjemuran dilakukan hingga
polong kering sempurna dan merata, sehingga polong kedelai akan mudah pecah dan
bijinya mudah dikeluarkan. Saat penjemuran polong dilakukan pembalikan, hal ini
dimaksudkan agar polong terjemur sempurna dan banyak biji yang keluar dari
polong.
b. Sortasi
Sortasi bertujuan untuk
memisahkan antara biji dengan polong kedelai. Pemisahaan dapat dilakukan dengan
memukul polong dengan kayu secara lansung. Biji yang keluar dari polong
dikumpulkan dan ditampi agar bijiterpisah dari kotoran lainnya.Biji yang luka
dan keriput dipisahkan. Biji yang bersih ini selanjutnya dijemur kembali sampai
kadar airnya 9-11 %. Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung dan
dipasarkan atau disimpan.
c. Pengepakan
Kedelai dapat disimpan dalam
jangka waktu cukup lama. Pengepakan bertujuan untuk memudahkan penyimpanan.
Pengepakan kedelai di Joglo Tani menggunakan karung. Karung-karung kedelai ini
ditumpuk pada tempat kering yang diberi
alas kayu agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. Penjemuran dilakukan
2-3 bulan sekali apabila penyimpanan dilakukan dalam waktu lama.
5.1.2 Kegiatan Budidaya Itik (Tambahan)
Budidaya itik akan
menghasilkan apabila jenis itik yang digunakana adalah yang berkualitas. Itik
yang paling bagus adalah itik dari jenis magelang. Itik jenis ini memiliki
tanda lingkaran putih seperti kalung pada leher. Bulu asli itik akan keluar
ketika berusia 45 hari..Pada umur 6 bulan ini masa mulai bertelur.
2.
Syarat kandang:
-
Lokasi jauh dari
pemukiman dan keramaian
-
Bersih, kering, sirkulasi
udara lancer
-
Ada tempat air minum,
tempat makan
3.
Pembibitan
Telus bebek yang akan
ditetaskan harus :
-
Bentuknya oval (tidak
bulat, tidak lonjong)
-
Warna kulit kerabang
(tidak berwarna muda ataupun tua)
-
Berat minimal 65 gr
-
Telur diambil dari bebek
yang berusia >1 tahun
4.
Pemeliharaan
-
Sanitasi dan tindakan
preventif
-
Pemberian pakan
5.
Pembuatan dan pemberian
pakan itik
Pakan itik diberikan 2
sampai 3 kali dalam sehari . Pakan itik yang digunakan di joglo tani terdiri
dari konsentrat 20%, nasi aking 40%, dan dedak/bekatul 40% dengan perbandingan
1:2:2. Bahan-bahan yang digunakan untuk konsentrat itik petelur: tepung ikan,
bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung daging dan tulang, pecahan gandum,
bungkil kacang tanah, canola, tepung daun, vitamin dan kalsium, fosfat serta
trace mineral.
Gambar
1c. Kadang Itik Petelur
5.2
Pembahasan
Praktek kerja lapangan atau
magang bertujuan menerapkan ilmu yang diperoleh dari proses perkulian secara
lansung, sehingga dapat membandingkan kesesuain teori dengan praktek. Praktek
kerja lapangan yang dilakukan di Joglo Tani bertemakan budidaya dengan
komditinya yaitu kedelai. Budidaya atau sistem pertanian yang diterapkan
dijoglo tani adalah pertanian lestari dengan sebagian input adalah bahan-bahan
organik.
Joglo Tani membagi proses
budidaya menjadi 3 yaitu pra budidaya, aksi budidaya dan pasca budidaya. Ketiga
proses tersebut adalah konsep dasar dalam melakukan budidaya tanaman. Pra
budidaya adalah tindakan-tindakan yang dilakukan sebelum melakukan proses
penanaman. Kegiatan dalam pra budidaya adalah ekologi tanah. Ekologi tanah
dibagi menjadi struktur tanah, tekstur, kemampuan tanah menahan air, kemampuan
tanah menahan mineral, aerasi, pH tanah, dan kandungan mineral tanah. Pada umumnya,
untuk mengetahui faktor-faktor tersebut dilakukan di laboratorium, sedangkan di
Joglo Tani untuk mengetahuinya cukup menggunakan alat sederhana. Alat sederhana
dapat dibuat dari bahan botol, balon, plastik dan sebagainya yang mana
penggunaan bahan-bahan tersebut mudah didapatkan dan sebagian besar merupakan
barang bekas. Penggunaan alat tersebut mudah dengan indikator yang mudah
dipahami. Selain itu, dalam pra budidaya
tindakan lain yang dilakukan adalah pembuatan pupuk organik padat dan cair
serta pembuatan pestisida nabati. Pembuatan pupuk organik padat dan cair
sebagian memanfaatkan hasil ternak dan
bahan-bahan hijauan di alam. Pembuatan pestisida nabati menggunakan daun-daunan
dan bagian tanaman yang lain. Penggunaan pupuk dan pestisida anorganik di Joglo
Tani minim dilakukakan.
Aksi budidaya yaitu kegiatan
atau tindakan-tindakan yang dilakukan ketika memulai proses penanaman. Aksi
budidaya meliputi pengolahan lahan, pembuatan bedengan, seleksi benih,
penanaman, perawatan, pengendalian hama dan penyakit, serta panen. Sebagian
besar kegiatan aksi budidaya yang dilakukan di Joglo Tani hampir sama dengan
yang diterapkan oleh petani pada umumnya. Hal yang berbeda adalah pengaplikasin
pupuk dasar, jika biasanya pupuk dasar disebarkan merata di atas bedengan
kemudian dicampur dengan tanah tetapi di Joglot Tani pupuk dasar diletakan pada
siringan yang dibuat pada bedengan dan kemudian menutupnya dengan tanah.
Peberian seperti ini dimaksudkan agar waktu yang digunakan lebih cepat, dan
pupuk dasar yang diberikan dalam jumlah yang sama pada setiap bagian bedengan.
Pengendalain hama dan penyakit tanaman kedelai di Joglo Tani menggunakan
petisidan nabati, penggunaan pestisida anorganik minim dilakukan untuk
menghindari efek negatif yang ditimbulkan. Panen dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu pemotongan dan pecabutan. Pemanenan yang berbeda ini dipengaruhi
oleh jenis tanah. Pemotongan dilakukan pada tanah keras, sedangkan pencabutan
dilakukan pada tanah ringan berpasir.
Pasca budidaya adalah proses
terakhir kegiatan budidaya tanaman sebelum hasil dijual. Kegiatan pasca panen
adalah penangan produk hasil pertanian yang bertujuan mepertahanakan kuantitas
dan kualitas hasil. Pasca budidaya kedelai meliputi penjemuran, sortasi dan
pengepakan. Kegiatan pasca panen yang diterapkan di Joglo Tani sama dengan
proses pasca panen pada umumnya. Artinya, tidak ada perbedaan khusus.
Kegiatan tambahan yang
dilakukan di Joglo Tani adalah mengenal secara dekat budidaya itik. Kegiatan
ini diambil karena budidaya itik merupakan peluang bisnis jika dikembangkan.
Telur itik memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan ayam. Perawatan
itikpun tidak sulit, dan cocok untuk usaha rumahan.
VI.
SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Budidaya kedelai meliputi pra budidaya, aksi
budidaya, dan pasca budidaya. Pra budidaya adalah kegiatan-kegiatan yang
dilakukan sebelum proses penanaman. Pra budidaya terdiri dari ekologi tanah,
pembuataan pupuk organik cair (POC), pembuatan pupuk organik padat (POP), dan
pembuatan pestisida. Ekologi tanah berkaitan tentang struktur tanah, tekstur tanah,
kemampuan tanah menahan air, kemampuan tanah menahan nutrisi, aerasi, pH tanah
dan kandungan mineral tanah.
Aksi budidaya tanaman kedelai terdiri
pengolahan tanah, pembuatan bedengan, seleksi benih, penanaman, perawatan,
pengendalian hama dan penyakit serta panen. Pasca budiaya adalah kegiatan untuk
mempertahankan kuantitas dan kualitas hasil produk pertanaian. Pasca budidaya
kedelai meliputi penjemuran, sortasi dan pengepakan.
6.2
Saran
Semoga budidaya kedelai di indonesia dapat
berkembang cepat dan pesat sehingga produksinya dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat indonesia. Selain itu, Joglo Tani sebagai monumen kebangkitan
pertanian indonesia, akan selalu menjaga dan menambah maju eksistensinya bagi
pertanian indonesia. Terakhir, semoga laporan ini dapat menambah pengetahuan
bagi pembaca dan menjadi referensi dalam berbudidaya tanaman kedelai.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2015. Tabel Luas Panen- Produktivitas- Produksi Tanaman
Kedelai Indonesia. Diunduh pada. http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php. Diakses 20 Febuari 2015
Cahyono, B. 2007. Teknik Budidaya Dan
Analisis Usaha Tani. Aneka Ilmu, Semarang.
Darman. 2008. Kedelai Sumber Pertumbuhan
Produksi Dan Teknik Budidaya. Gramedia, Bogor
Panggabean, R. 2007. Prospek
dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai. Diunduh pada. http://www.litbang.deptan.go.id/special/publikasi/doc
tanaman pangan/kedelai/kedelai-bagian-b.pdf. Diakses 20
Febuari 2015.
Rukmi,
2009. Pengaruh Pemupukan Kalium Dan
Fosfat Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Kedelai. Diunduh pada. http://www.umk.ac.id/jurnal/jurnal/201
0/sains%20juni%202010/ Pengaruh %20PEMUPUKAN%20KALIUM%20 DAN%20FOSFAT.pdf. Diakses 20 Febuari 2015.
Sarwanto, A. 2008. Budidaya Kedelai
Tropika. Penebar Swadaya, Jakarta.
Septiatin, A. 2008. Meningkatkan Produksi
Kedelai Dilahan Kering, Sawah, dan Pasang Surut. Yrama Widya, Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar