Jumat, 17 November 2017

Joglo Tani

LAPORAN PRAKTEK LAPANG/MAGANG



PERTANIAN TERPADU: TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI
DI JOGLO TANI, DESA MANDUNGAN 1, MARGOLUWIH, SAYEGAN, SLEMAN, YOGYAKARTA



OLEH:

GILANG SETIAWAN
E1J012031



 












                                                                                                 






PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015







RINGKASAN

PERTANIAN TERPADU : TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI DI JOGLO TANI, DESA MANDUNGAN 1, MARGOLUWIH, SAYEGAN, SLEMAN, YOGYAKARTA
Gilang Setiawan. Program Studi Agroekoteknologi Jurusan Budidaya Pertanaian Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu

Praktek kerja lapangan atau magang adalah kegiatan lansung di lapangan untuk mengaplikasikan teori yang dapat di kelas. Dengan praktek kerja lapangan dapat membandingkan antara teori dengan kenyataan di lapangan. Praktek kerja lapangan (PKL) ini berjudul pertanian terpadu : teknik budidaya tanaman kedelai.
Praktek kerja lapangan ini bertujuan untuk 1) memperoleh pengetahuan tentang cara budidaya kedelai; 2) mengetahui persoalan yang timbul di lapangan mengenai teknik budidaya kedelai; 3) mengetahui atau memahami proses pelaksanaan budidaya kedelai dari awal sampai panen dan pasca panen; 4) mendapatkan pengalaman dibidang pertanian secara lansung, khususnya mengenai teknik budidaya kedelai yang benar.
Pelaksanaan kerja praktek  dilakasanakan pada tanggal 13 januari 2015 – 11 februari 2015. Lokasi kegiatan ini dilaksanakan di lahan ± 2000 m² yang bertempat di Joglo Tani, Desa Mandungan 1, Margoluwih, Sayegan, Sleman, Yogyakarta.



KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum Wr. Wb.
            Allhamdulillah, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan magang atau praktik kerja lapangan.
            Praktek kerja lapangan atau magang dilaksanakan selama satu bulan. Judul praktek kerja lapangan “ Pertanian Terpadu:  Teknik Budidaya Tanaman Kedelai di Joglo Tani, Mandungan 1, Margoluwih, Sayegan, Sleman, Yogyakarta”. Magang ini merupakan salah satu mata kuliah wajib Agroekoteknologi dengan kode AGT-400 dan jumlah SKS 2. Magang ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana strata satu jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.
Penulisan laporan magang berdasarkan kegiatan yang dilaksanakan di lapangan. Laporan ini dapat terselesaikan berkat bimbingan dan bantuan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menucapkan terima kasih kepada:
1.        Bapak T.O Soeprapto sebagai pimpinan di Joglo Tani.
2.        Mas Bagus Septiawan Nugraha dan Mas Titis Nugraha sebagai pembimbing lapangan.
3.        Sahabat joglo dan teman seperjuangan magang.
4.        Bapak Ir. Marwanto, M.Sc.PhD sebagai pembimbing magang.
5.        Kedua orang tua saya yang telah memberikan do’a dan dukungan selama magang dan penyelesain laporan ini.
6.        Semua pihak yang turut serta dalam penyelesaian laporan magang ini.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun laporan ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini. Dan semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih.
Wasalamualaikum Wr. Wb.
Bengkulu,  Maret  2015

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................
i
RINGKASAN...............................................................................................
ii
KATA PENGANTAR..................................................................................
iii
DAFTAR ISI.................................................................................................
iv
DAFTAR GAMBAR....................................................................................
DAFTAR TABEL.........................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................
 v
 v
 v
I
PENDAHULUAN...............................................................................
1

A.
Latar Belakang...........................................................................
1

B.
Tujuan........................................................................................
2

C.
Manfaat......................................................................................
3
II
GAMBARAN UMUM DI JOGLO TANI...........................................
4

A.
Sejarah Berdirinya Joglo Tani....................................................
4


Ø 
Latar Belakang Berdirinya Perusahaan...............................
4


Ø  
Tujuan Perusahaan..............................................................
4


Ø  
Visi Misi Perusahaan..........................................................
5

B.
Struktur Organisasi.....................................................................
6

C.
Sistem Manajemen Produksi......................................................
6

D.
Sistem Tata Kelola Tenaga Kerja..............................................
7
III
ANALISIS SITUASI DAN PERMASALAHAN...............................
10
IV
METODE MAGANG..........................................................................
11

A.
Waktu dan Tempat.....................................................................
11

B.
Tahapan Pelaksanaan.................................................................
11

C.
Mekanisme Pelaksanaan............................................................
11
V
HASIL DAN PEMBAHASAN PRAKTEK LAPANGAN.................
13
VI
SIMPULAN DAN SARAN...........................................................
27
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN






DAFTAR GAMBAR

Gambar 1a. Materi Pra-Budidaya.................................................................
13
Gambar 2a. Pengukuran Struktur dan Tekstur Tanah...................................
14
Gambar 3a. Alat Pengukur Kemampuan Tanah Menahan Air.....................
15
Gambar 4a. Alat Ukur Kemampuan Tanah Menahan Nutrisi......................
16
Gambar 5a. Alat ET......................................................................................
17
Gambar 6a. Alat Ukur Aerasi Tanah............................................................
17
Gambar 1b. Penolahan Tanah Tahap I…......................................................
19
Gambar 2b. Pengolahan Tanah Tahap II......................................................
19
Gambar 3b. Bedengan dan Siringan.............................................................
20
Gambar 4b. Hasil Seleksi Biji Kedelai.........................................................
20
Gambar 5b. Penugalan..................................................................................
21
Gambar 6b. Penanaman Benih Kedelai........................................................
21
Gambar 1c. Kandang Itik Petelur.................................................................

24


DAFTAR TABEL

Tabel 1. Luas Panen- Produktivitas- Produksi Tanaman Kedelai Indonesia.......................................................................................

1










 I.              PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Kedelai (Glycine max L) merupakan sumber protein nabati utama bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Sampai saat ini kedelai masih menjadi salah satu komoditas pangan yang sangat penting di Indonesia (Rukmi, 2009). Kebutuhan kedelai dari tahun ke tahun selalu meningkat. Kedelai, selain sebagai bahan makanan, juga digunakan untuk bahan baku industri dan pakan ternak. Sehingga, komoditas ini selalu dibutuhkan dalam jumlah banyak oleh masyarakat (Cahyono, 2007).
Badan Pusat Statisitik (BPS) sebagai salah satu badan survai menghitung produksi kedelai indonesia mulai dari tahun 2008 sampai 2013 sebagai berikut :
Tabel 1. Luas Panen- Produktivitas- Produksi Tanaman Kedelai Indonesia
Negara
Jenis Tanaman
Tahun
Luas Panen (Ha)
Produktivitas (Ku/Ha)
Produksi (Ton)
Indonesia
Kedelai
2008
590956.00
13.13
775710.00
Indonesia
Kedelai
2009
722791.00
13.48
974512.00
Indonesia
Kedelai
2010
660823.00
13.73
907031.00
Indonesia
Kedelai
2011
622254.00
13.68
851286.00
Indonesia
Kedelai
2012
567624.00
14.85
843153.00
Indonesia
Kedelai
2013
550793.00
14.16
779992.00
Sumber : BPS 2015
Ketidak seimbangan antara kemampuan untuk memproduksi kedelai di dalam negeri dengan kenaikan permintaan, sebenarnya telah terjadi dalam kurun waktu cukup lama. Sebagai contoh, selama periode 1969-1985 kenaikan produksi kedelai telah mencapai angka 4,75%, tetapi angka tersebut belum mampu mencukupi karena selama periode yang sama terjadi lonjakan permintaan kedelai per tahun yang lebih besar yaitu 5,74% (Sarwanto, 2008).
Produksi kedelai dapat ditingkatkan dengan berbagai upaya seperti pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pengairan dan pemeliharaan tanaman secara baik, penggunaan mulsa jerami, pemberian Pupuk Pelengkap Cair (PPC), pemberian Zat Perangsang Tumbuh (ZPT), dan perlakuan inokulasi Rhizobium  (Septiatin, 2008). Usaha lain untuk meningkatkan produksi kedelai antara lain perluasan areal tanam dengan  memanfaatkan  potensi  lahan   kering  dan  lahan tidur,  perbaikan  cara bercocok tanam yaitu pengolahan tanah yang baik dan penggunaan varietas unggul (Panggabean, 2007).
Peningkatan produksi kedelai memiliki kendala yang beragam. Salah satunya, yaitu konversi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian akan mempengaruhi luas areal pertanaman kedelai secara nasional (Darman, 2008). Kendala lain adalah susahnya mendapat pupuk, pestisida yang mahal dan pengetahuan tentang budidaya kedelai yang dimiliki petani masih minim.
Produktifitas kedelai dapat terwujud apabila petani mempunyai pengetahuan yang umum dan khusus tentang teknik budidaya kedelai. Agar petani dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi pada tanaman kedelai, sehingga dalam kerja praktek lapangan atau magang mengambil judul “PERTANIAN TERPADU: TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI”  untuk dapat belajar teknik dan cara budidaya tanaman  kedelai dengan  benar.

B.            Tujuan
Tujuan praktek kerja lapangan adala sebagai berikut :
1.    Memperoleh pengetahuan tentang cara budidaya kedelai di Joglo Tani.
2.    Mengetahui persoalan yang timbul di lapangan mengenai teknik budidaya kedelai di Joglo Tani.
3.    Mengetahui atau memahami proses pelaksanaan budidaya kedelai dari awal sampai panen dan pasca panen.
4.    Mendapatkan pengalaman dibidang pertanian secara langsung, khususnya mengenai teknik budidaya kedelai yang benar.

C.           Manfaat
Manfaat praktek kerja lapangan adalah sebagai berikut :
1.    Bagi Mahasiswa
a.         Menambah pengetahuan bagi mahasiswa dengan mengikuti kerja lapangan.
b.        Memperoleh pengalaman dan keterampilan cara budidaya kedelai yang baik di Joglo Tani.
2.    Bagi Pengembangan Ilmu
Dengan mengetahui dan mapu memecahkan serta dapat menganalisis permasalahan-permasalah di lapangan, akan memberikan pengetahuan tentang budidaya kedelai.
3.    Bagi Lembaga Tempat Kerja Praktek
a.         Ikut membantu dalam mengidentifikasi permasalahan yang timbul di lapangan serta alternatif pencegahannya.
b.        Membantu dengan melibatkan diri pada kegiatan yang ada di tempat kerja praktek.

















II.           GAMBARAN UMUM DI JOGLO TANI

A.           Sejarah Berdirinya Joglo Tani
Ø   Latar Belakang Berdirinya Joglo Tani
Joglo Tani merupakan wahana pembelajaran pertanian terpadu yang didirikan oleh T.O Soeprapto dan Sunarno (Timbul) pada tanggal 19 Januari 2008 di Dusun Mandungan, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Propinsi D.I. Yogyakarta. Joglo Tani sebagai lembaga yang berdiri dari hasil diskusi dan proses panjang serta merupakan kumpulan masyarakat tani dan pemerhati pertanian yang berpengalam menjadi fasilitator masyarakat dalam mengembangkan pertanian terpadu yang berbasis konservasi lingkungan dan inisiatif masyarakat lokal. Anggota Joglo Tani adalah orang-orang yang berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas petani untuk menjadi manajer mandiri serta selalu konsisten dalam mengembangkan pendidikan masyarakat yang partisipatif.
Joglo Tani merupakan nama yang berasal dari singkatan Ojo Gelo Tani yang artinya petani janganlah selalu kecewa, arti dari kecewa yaitu petani yang selalu dipermainkan oleh harga jual hasil taninya yang selalu berubah dan cenderung merugikan petani dan membuat kecewa.
Bangunan Joglo tani berdiri ditengah kawasan model pertanian terpadu. Bangunan yang berbentuk joglo ini digunakan sebagai pusat aktifitas. Kawasan ini merupakan rumah terbuka bagi kaum tani untuk belajar dengan alam dan dinamika sosial. Empat pilar joglo dimaknai sebagai prinsip pengembangan perikehidupan yaitu; Berdoa, Belajar, Berkarya, dan Bersosial.
Ø   Tujuan Perusahaan
ü Mengelola segala bentuk bahan organik sehingga tidak terbuang percuma dan dapat dimanfaatkan untuk bahan baku pangan / masukan bagi pengembangan usahatani terpadu.
ü Menyediakan berbagai bentuk kompos, bahan baku nutrisi untuk tanaman, ternak, ikan dan bahan lain yang bersifat probiotik.
ü Menyediakan jasa konsultasi dan pelatihan di bidang pengelolaan pertanian terpadu berbasis potensi sumberdaya lokal yang mencakup sektor hilir dan hulu.
ü Menyediakan ruang publik untuk pembelajaran dan pengembangan inovasi dalam bentuk nyata.

Ø   Visi dan Misi Perusahaan
VISI
Terwujudnya “Desa Berdaulat Pangan” melalui proses perubahan perilaku, penyusunan tata ruang, pembangunan sistem dan penguatan kelembagaan masyarakat desa.
MISI
ü Membangun sistem pertanian terpadu dengan keterkaitan sektor hulu sampai hilir usaha  untuk membangun sistem mandiri pangan serta mendorong terbentuknya pola konsumsi masyarakat yang bersumber dari produk lokal.
ü  Meningkatkan pendapatan keluarga tani melalui aneka usaha berbasis potensi desa dan pola kerjasama pengelolaan usaha.
ü  Mendorong meningkatnya derajat kesehatan masyarakat melalui proses perubahan perilaku bersih dan sehat dengan penerapan model desa bersih dan hijau.
ü  Membangun  sebuah kawasan  yang berfungsi sebagai wisata pendidikan pertanian, perikehidupan desa, dan untuk memberi peluang pasar produk dan jasa.
ü  Menyusun dan mengembangkan model pendekatan pendidikan masyarakat untuk membangun karakter pengusaha dan pengembang usahatani mandiri.
ü  Mendorong kaum perempuan dan kaum muda terlibat secara aktif dalam usaha pertanian dan pengelolaan lingkungan.
ü  Menyediakan wadah komunikasi dan tukar pengalaman antar kelompok masyarakat dan membentuk fasilitator dan organizer masyarakat.


B.            Struktur Organisasi
KETUA
T.O SUPRAPTO
BENDAHARA
AMBORO WAHYU S.
SEKERTARIS
SUNARNO
 








ü  Unit Bahan : Produksi Bowo
ü  Unit Proses Produksi : Ay Suharyono
ü  Unit Paska Produksi : Johan Arifin
ü  Unit Pelayanan Jasa : Sukirman
ü  Unit Penguatan Modal : Hery Johandi
ü  Divisi Rumah Tangga Koordinator : Sudarmaji
ü  Unit Finansial Istri : Wandari
ü  Unit Ketenaga kerjaan : Abu Hanifah

C.           Sistem Menejemen Organisasi
Unit Usaha
Unit usaha menjadi bagian terpenting dari aktivitas dan pengembangan koperasi. Sebagai dapur yang menghidupi  secara mandiri, unit usaha menjalankan aneka usaha perdagangan dan pelayanan jasa.
a.    Pengelolaan Lahan 
ü  Pengelolaan lahan di sekitar bangunan Joglo, dengan penerapan bercocok tanam sistem ”Dakon”. Selain untuk sarana belajar, hasil yang diperoleh untuk mendukung operasional koperasi secara umum.
ü  Pengelolaan lahan untuk usaha peternakan itik, sapi, kambing, kelinci. Dan perikanan. Selain keuntungan berupa produk langsung ternak, kotoran ternak dikelola untuk menjadi sumber nutrisi lahan yang dikelola koperasi.
ü  Pengelolaan lahan seluas 1 ha yang disewa koperasi untuk usaha bercocok tanam padi dan sayuran dataran rendah.
ü  Pengelolaan lahan untuk penyediaan bibit tanaman buah-buahan, tanaman keras, dan tanaman hias.
b.    Penjualan Produk Pertanian
ü  Pemasaran produk pertanian organik seperti beras dan sayuran organik.
ü  Pemasaran aneka olahan produk pertanian organik yang dihasilkan oleh masyarakat.
ü  Penyediaan makanan dan minuman dengan menu lokal untuk para pengunjung joglo dan masyarakat sekitar.
c.    Penyediaan Sarana Produksi
ü  Penyediaan aneka benih atau bibit seperti benih padi khususnya varietas unggul lokal, aneka bibit tanaman buahan dan tanaman keras, dan tanaman hias.
ü  Penyediaan bibit itik, kelinci dan ikan.
ü  Penyediaan makanan ternak seperti itik (sudah dalam bentuk campuran).
ü  Penyediaan sarana produksi pertanian organik, seperti; kompos, pupuk cair, zat pengatur tumbuh dan pestisida nabati.
d.   Pelayanan Jasa Pertanian
ü  Penyediaan media komunikasi termasuk advokasi program dalam bentuk kaos, buku, dan audio visual, brosur, leaflet, buku panduan, poster dan banner.
ü  Penyewaan kendaraan yang berupa kolt dan truk untuk kepentingan pengangkutan hasil produksi pertanian pada para petani sekitar yang membutuhkan.

D.           Sistem Tata Kelola Tenaga Kerja
Bidang kerja
1.    Unit Keswadayaan
a.    Kemitraan
Selain penggalangan dana dari anggota, juga dilakukan secara eksternal melalui mekanisme kerjasama dan kemitraan dengan lembaga lain, tidak menerima kerjasama dalam bentuk bapak atau anak angkat yang memungkinkan terjadinya pola penguasaan. Bentuk kerjasama dan kemitraan antara lain;
ü  Pemberian hibah tanpa ada ikatan kepentingan di luar visi dan misi.
ü  Kolaborasi permanen dengan lembaga lain yang hanya mengikat pada satu program kerja.
ü  Kolaborasi non permanen (insidential) dengan lembaga lain dengan batas waktu tertentu.
ü  Pemberian modal usaha dengan perjanjian yang jelas dan tidak ditempeli kepentingan.
b.    Kerjasama Progam
Koperasi secara terbuka melakukan kerjasama dengan lembaga lain untuk menjalankan program yang sesuai dengan program yang telah ditetapkan. Selain itu  juga menerima program kerjasama dalam bentuk sponsorship pada kegiatan atau event dengan batas waktu tertentu.  Bentuk kerjasama program antara lain: 
ü  Purchase Order atau kontrak kerja tertentu.
ü  Small grant atau hibah kecil untuk menjalankan program tertentu.
ü  Sponsor tetap maupun tidak tetap dalam melakukan kegiatan tertentu.
c.    Pendampingan Masyarakat Lokal 
Sebagai bentuk aksi nyata mengembangkan program kerjanya, melakukan pendampingan pada masyarakat setempat berdasarkan persetujuan bersama. Model yang dikembangkan  secara bertahap dan dalam skala terbatas diterapkan di masyarakat setempat. Pendampingan yang diberikan dalam bentuk:
ü  Fasilitator pemberdayaan masyarakat baik dalam aspek teknis maupun non teknis.
ü  Pemberian sarana terbatas untuk menerapkan model yang dikembangkan.
ü  Membantu membangun sistem kelembagaan masyarakat.
ü  Pinjaman penguatan modal ke anggota dan usaha bersama.


2.    Unit Pendidikan
a.    Pendidikan Pertanian Mandiri
Paket atau materi pendidikan pertanian mandiri, antara lain:
ü  Pertanian terpadu berbasis potensi lokal.
ü  Sistem usaha tani organik berorientasi kaidah konsevasi lingkungan, derajat kesehatan dan keuntungan ekonomi.
ü  Dasar-dasar ekologi tanah dan air.
ü  Pengelolaan benih termasuk teknik penyilangan.
ü  Sekolah lapangan dengan berbagai tema.
b.    Laboratorium Fasilitator Masarakat
Paket atau materi pelatihan, antara lain:
ü  Dasar-dasar pendidikan orang dewasa.
ü  Metode kepemanduan.
ü  Teknik motivasi dan membangun pikiran.
ü  Pengembangan Sains Masyarakat.
ü  Pengorganisasian Masyarakat.
ü  Perencanaan dan Monitoring Partisipatif.
c.    Pendidikan Konservasi Lingkungan
Pelayanan pendidikan konsevasi lingkungan seperti:
ü  Pengelolaan Kawasan Konservasi dengan pendekatan Model Desa Konsevasi.
ü  Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim.
ü  Pengelolaan Daerah Aliran Air termasuk perlindungan sumber air.
ü  Pengelolaan Sanitasi Berbasis Masyarakat meliputi pengelolaan sampah padat, cair, dan perilaku bersih dan sehat.
ü  Pendidikan lingkungan untuk anak sekolah.
d.   Wisata Alam Pedesaan
Pelayanan wisata alam dan pedesaan seperti:
ü  Out bond bernuansa pertanian dan pedesaan.
ü  Penyelenggaraan even terkait tradisi pedesaan dan lingkungan.
ü  Pelatihan pemandu wisata pendidikan lingkungan.
ü  Wisata Kuliner dan produk pertanian.
III.        ANALISIS SITUASI DAN PERMASALAHAN

A.           Peralatan yang digunakan selalu sederhana, seperti untuk mengukur pH tanah menggunakan kunyit, mengetahui kandungan mineral dalam tanah menggunakan peralatan yang sederhana sehingga tidak dapat mengetahui apakah mineral yang terkandung dalam tanah berbahaya atau tidak bagi tanaman.
B.            Benih yang digunakan kebanyakan dibeli di toko pertanian belum hasil dari Joglo Tani secara lansung atau belum menggunakan benih dari varietas lokal.
C.            Benih yang digunakan sudah kadaluarsa, sehingga waktu ditanam banyak yang tidak tumbuh.
D.           Pengendalian hama dan penyakit menggunakan bahan-bahan organik membutuhkan proses yang panjang, sehingga jika ada ledakan serangan hama dan penyakit tidak dapat diatasi secara cepat.











IV.        METODE MAGANG

A.           Waktu dan Tempat
Praktek kerja lapangan (PKL) atau magang berlansung dari tanggal 13 Januari – 11 Febuari 2015. Kegiatan magang ini dilaksanakan di Joglo Tani, Dusun Mandungan , Desa Margoluwih, Sayegan, Sleman. Luas lahan total ± 8000 m², luas bangunan ± 1.700 m². Terletak pada ketinggian tempat ± 150 meter dari permukaan laut.

B.            Tahap Pelaksanaan
Tahapan pelaksanaan praktek kerja lapangan meliputi :
a.    Pra  Budidaya
-       Ekologi tanah..
-       Pembuatan pupuk organik cair (POC)
-       Pembuatan pupuk organik padat(POP)
-       Pembuatan pestisida nabati
b.     Aksi Budidaya
-       Pengolahan tanah
-       Pembuatan bedengan
-       Seleksi benih
-       Penanaman kedelai
-       Perawatan
-       Pengendalian hama dan penyakit tanaman
-       Panen
c.    Pasca Panen
-       Penjemuran
-       Sortasi
-       Pengepakan

C.           Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan praktek kerja lapangan atau magang  terdiri dari :
a.    Kegiatan Lansung
Menerapkan atau melakukan proses-proses budidaya kedelai lansung dengan arahan pembimbing lapangan.
b.    Survai
Melihat secara lansung proses budidaya kedelai yang ada di joglo tani, lahan produksi masyarakat dan penelitian mahasiswa  Institut Pertanian (INTAN) Jogjakarta.
c.    Evaluasi
Melakukan pembahasan permasalahan-permasalahan yang ditemui di lapangan bersama pembimbing lapangan. Evaluasi termasuk membahas kemajuan kegiatan praktek kerja Lapangan.






















V.           HASIL DAN PEMBAHASAN PRAKTEK LAPANGAN

5.1         Hasil
5.1.1        Kegiatan Budidaya Kedelai (Utama)
A.           Pra Budidaya
a.    Ekologi Tanah
Ekologi tanah adalah rumah tangga tanah, kesuluruhan komponen penyusun tanah mencangkup unsur fisik, kimia dan biologi tanah. Komponen fisik tanah seperti struktur, teksur, kemampuan tanah menahan air, dan kemampuan tanah menahan nutrisi. Komponen kimia seperti kapasitas tukar kation, kapasitas tukar anion, kandungan bahan organik tanah, dan pH tanah. Komponen biologi meliputi macam-macam mikroorganisme dan organisme tanah.
Gambar 1a. Materi Pra-Budidaya
Ekologi tanah merupakan pengetahuan dasar yang penting sebelum melakukan budidaya pertanian. Secara umum ekologi tanah dapat diteliti di laboratorium dengan menggunakan sampel tanah pada lahan yang akan digunakan sebagai lahan budidaya pertanian. Tetapi, pengetahuan tentang ekologi tanah pada lahan pertanian dapat diketahui dengan mudah di Joglo Tani. Untuk mengetahui keadaan ekologi, di Joglo Tani dibuat alat yang dapat digunakan dalam melakukan sidik cepat untuk mengetahui struktur tanah, tekstur tanah, kemampuan menahan air, kemampuan menahan nutrisi, pH tanah, dan kandungan bahan mineral tanah.
1.    Sturktur tanah dan Teksur tanah
Teksur tanah ditentukan dengan menghitung besaran presentasi bahan tanah. Tanah yang memiliki kandungan pasir dalam jumlah banyak disebut tanah berpasir, tanah yang memiliki kandungan liat dalam jumlah banyak disebut tanah berliat sedangkan tanah yang memiliki kandungan debu terbanyak disebut tanah bebu. Penentuan struktur dan tekstur tanah tepat dan cepat yang diterapkan di Joglo Tani adalah menggunakan alat sederhana, yaitu plastik putih panjang dengan diameter sekitar 10 cm dengan panjang plastik 100 cm. Cara kerja dari alat ini adalah pertama, tentukan tanah yang akan digunakan sebagai sampel dan mencangkulnya sedalam 50 cm. Kedua, mengikat pangkal bawah plastik dan memasukan tanah kedalam plastik setinggi 30 cm dan tambahkan air. Menggantung plastik pada tiang dan mendiamkannya hingga air bersih. Terakhir, mengamati komponen penyusun tanah yang ada pada endapan plastik bagian bawah.
Gambar 2a. Pengukuran Struktur dan Tekstur Tanah

2.    Kemampuan menahan air
Ketersedian air bagi tanaman bergantung pada kapasitas lapang pada tanah. Jika ketersedian air bagi tanaman tercukupi, maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan berjalan dengan baik. Air dapat tersedia dalam keadaan lapang dikarenakan kemampuan tanah menahan air atau mengikat air sangat baik.
Kemampuan tanah menahan air dapat diketahui dengan mudah. Inilah yang diterapkan di joglo tani. Bermodal dua botol plasitk ukuran 1 Liter, jenis tanah yang memiliki kemampuan untuk mengikat tanah yang baik dapat ditentukan. Secara nyata, air mengalir secara vertikal yaitu dari atas menuju ke bawah. Hal ini dapat dilihat dari saat hujan turun, air hujan akan mengalir dari lapisan tanah atas menuju lapisan tanah bawah. Konsep ini yang digunakan dalam pembuatan alat sederhana di Joglo Tani. Air yang diletakan dalam alat (botol plastik) akan memperlihatkan sebarapa besar air yang dilewatkan tanah dan terikat oleh tanah.
Gambar 3a. Alat Pengukur Kemampuan Tanah Menahan Air
3.    Kemampuan menahan nutrisi
Nutrisi adalah makanan atau suplemen yang dibutuhkan tanaman untuk dapat tumbuh dan berkembang. Tanaman mendapatkan nutrisi melalui proses penyerapan yang dilakukan oleh akar. Nutrisi dapat tersedia secara alami di tanah ataupun dapat disediakan dengan penambahan nutrisi melalui proses pemupukan.
Pemupukan bertujuan untuk menambah atau menyediakan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Pemupukan terkadang dapat menjadi percuma karena proses pemupukannya dilakukan tidak secara benar. Selain itu, jenis-jenis pupuk terkadang mudah larut oleh air dan menguap secara cepat. Pemupukan akan efektif apabila jenis pupuk yang ditambahkan pada tanah dapat berikatan. Tidak semua tanah dapat menahan nutrisi secara baik, beberapa tanah kemampuan menahan nutrisinya buruk.
Pengukuran tentang kemampuan tanah menahan nutrisi yang ada di Joglo Tani dapat diperagakan dengan simpel dan menarik. Alat ukur yang digunakan menggambarkan proses pemupukan dan sebarapa besar kandungan pupuk yang tertinggal di dalam tanah. Alat yang digunakan sama dengan alat ukur pada kemampuan tanah menahan air.
Gambar 4a. Alat Ukur Kemampuan Tanah Menahan Nutrisi
4.    PH tanah
PH tanah terdiri dari asam, basa dan netral. Tanah yang banyak mengandung ion H+ disebut tanah asam, sedangkan tanah yang banyak mengandung ion OH- disebut tanah basah. Pengujian pH tanah di Joglo Tani menggunkan indikator kunyit. Kunyit digunakan karena nilai pHnya mendekati netral.
Tanah yang digunakan sebagai sampel diambil dengan kedalaman 30 cm. Tanah tersebut direndam dalam air sampai mengendap, kemudian air dibuang. Kunyit yang utuh kemudian dipotong menjadi 2 bagian. Satu bagian dimasukan kedalam tanah selama 20 menit, dan satunya lagi diguanakan sebagai pembanding. jika warna kunyit memudar maka pH tanah asam, dan jika warna kunyit menjadi lebih terang maka pH tanah basa.
5.    Kandungan bahan mineral tanah
Alat ET dibuat menggunakan bahan bambu, bola lampu, kabel listrik, colokkan dan piteng. Alat ini kemudian dirangkai menjadi alat yang digunakan untuk menguji kandungan bahan mineral. Sampel tanah yang akan diuji dengan alat ini sebelumnya diberi air, kemudian baru alat dimasukan kedalam sampel tanah tersebut. Indikator ada tidaknya kandungan bahan mineral tanah adalah apabila lampu menyala. Jika lampu menyala terang, maka kandungan mineral dalam tanah tinggi.
Gambar 5a. Alat ET
6.    Aerasi
Untuk mengetahui aerasi tanah yaitu dengan cara botol aqua di lubangi, tutup bortol diberi paralon dan diikat kuat, kemudian letakkan botol berisi tanah di dalam wadah berisi air, balon ditiup, semakin cepat balon kempes berarti pori-pori tanah lebih besar, jika pada tanah basah maka pori-pori tanah kecil dan biasanya tanah tersebut kurang bagus untuk pertanian.
Gambar 6a. Alat Ukur Aerasi Tanah

b.    Pembuatan Pupuk Organik Cair
Bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik cair yaitu :
ü  N = urine kelinci, legum, kotoran ayam dan klereside
ü  P = buah-buahan  dan sayuran yang sudah busuk, kotoran kelelawar (guano)
ü  K = air rendaman sabut kelapa
Bahan tambahan : glukosa/tetes tebu
N, P dan K difermentasi satu persatu. Proses ini berlansung selama 3 minggu, pengadukan dilakukan 3 hari sekali. Setiap  pengadukan ditambahkan glukosa atau air tetes tebu secukupnya. Pupuk organik cari yang digunakan untuk meransang buah dapat  menggunakan bahan yaitu keong mas, air kelapa, tetes tebu, dan air leri.
c.    Pembuatan Pupuk Organik Padat
Pupuk organik padat dibuat menggunakan bahan-bahan utaman sebagai berikut:
Unsur nitrogen (N) : kotoran hewan, klereside 40%
Unsur fosfor (P) : guano, daun pisang 20 % 
Unsur kalaium (K) : daun bambu, batang pisang  20 %
Bahan tambahan: air rebusan umbi empon-empon, EM4, dolomit, abu dapur 20%.
Bahan-bahan pembuat pupuk organik padat tersebut dicacah hingga menjadi potongan kecil. Kemudia, dicampur hingga merata dan diaduk setiap 3 hari sekali. Setiap pengadukan ditambahkan EM4, dolomit, abu dapur dan air empon-empon.
Pembuatan EM4 dapat menggunakan bahan-bahan seperti tempe sebagai penghancur daun, nanas  sebagai pelapuk batang, pisang untuk pencernaan dan bawang merah sebagai penghancur lemak. Cara pembuatannya adalah awalnya semua bahan dicacah, kemudian dimasukkan ke dalam botol aqua serta ditambah 1 liter air dan 2 sendok gula. Botol selanjutnya ditutup rapat.  Tutup botol di buka sebentar setiap harinya, setelah EM4 terbentuk maka dimasukkan 1 tutup botol kedalam pupuk organik padat, N, P, K (fermentasi).
d.   Pembuatan peptisida nabati
Pestisida nabati dapa dibuat dari bahan-bahan seperti kulit, buah dan daun pucung, daun sirsak, daun mindi, brotowali dan gadung. Alat yang dala pembuatan pestisida ini yaitu botol air mineral 1,5 liter, penumbuk dan pengaduk.
Proses pembuatan pestisida ini dimulai dari semua bahan di tumbuk, kemudian masing-masing bahan yang sudah halus di masukkan ke dalam botol. Setelah itu, botol diisi air meineral sampai penuh dan di fermentasi selama 1-2 hari. Setalah 2 hari disaring dan dicampurkan kedalam tabung, lalu di aplikasikan ke tanaman dengan dosis 10 ml/liter. 10 ml tersebut untuk masing-masing jenis atau bahan pestisida.

B.            Aksi Budidaya
    a.     Pengolahan tanah
Pengolahan tanah dalam budidaya kedelai memperhatikan tipe lahan, dan kandungan air tanah. Pengolahan tanah dilakukan 2 tahap yaitu pertama, membersihkkan vegetasi/rumput yang ada diatas tanah. Tujuannya adalah untuk sanitasi lahan. Khusus jenis teki-tekian pembesihaan tanah hingga ke umbinya, karena teki-tekian dapat tumbuh kembali jika umbinya masih ada di dalam tanah. Kedua, tanah dicangkul hingga kedalaman sekitar 30 cm kemudian digemburkan dan diratakan.







Gambar 1b. Pengolahan Tanah Tahap I    Gambar 2b. Pengolahan Tanah Tahap II

    b.     Pembuatan bedengan
Bedengan yang digunakan memiliki ukuran panjang 5 m dan lebar 1,5 m. Ketebalan bedengan 20-30 cm. Tanah yang telah digemburkan pada proses pengolahan tanah kemudian dibentuk menjadi bedengan. Pada bagian tengah bedengan dibuat siringan yang berfungsi untuk meletakan pupuk dasar. Pupuk dasar yang digunanak yaitu kompos, hijauan, atau pupuk kandang yang telah jadi. Pemberian pupuk dasar ini bertujuan untuk menambah kandungan unsur hara didalam tanah.
Gambar 3b. Bedengan dan Siringan
    c.     Seleksi benih
Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, maka benih yang digunakan harus yang berkualitas baik, artinya benih mempunyai daya tumbuh yang besar dan seragam, tidak tercemar dengan varietas-varietas lainnya, bersih dari kotoran, dan tidak terinfeksi dengan hama penyakit. Secara visual benih yang baik dapat diamati dari ukuran, bentuk, dan warna.
Gambar 4b. Hasil Seleksi Biji Kedelai

   d.     Penanaman kedelai
Penanaman dilakukan setelah lahan siap untuk ditanam. Benih kedelai yang akan ditanam adalah benih yang telah melewati proses seleksi. Jarak tanam budidaya kedelai adalah 20 x 20 cm.  Lubang tanam dibuat dengan cara penuggalan sedalam 1 – 2 cm. Penanaman biji 2-3 dalam satu lubang tanam. Setelah ditanam, kemudian lubang ditutup.











Gambar 5b. Penugalan                     Gambar 6b. Penanaman Benih Kedelai

    e.     Perawatan
Benih kedelai akan mulai tumbuh setelah 5-6 hari. Penyulaman dilakukan apabila ada benih yang tidak tumbuh dan dilakukan pada sore hari agar tanaman tidak layu. Penyulaman dapat menggunakan biji baru ataupun dengan tanaman cabutan.
Penyiangan dapat dilakukan setelah tanaman kedelai berumur 2 sampai 3 minggu untuk penyiangan yang pertama dan 6 minggu setelah tanam untuk penyiangan yang keduai. Penyiangan dilakukan untuk menghindari adanya kompetisi antara gulma dengan tanaman kedelai.
Kedelai menghendaki tanah dalam keadaan basah tetapi tidak becek. Keadaan seperti ini disebut keadaan lapang. Untuk menjaga kelembapan maka dilakukan penyiraman. Penyiraman dapat dilakukan pada pagi ataupun sore hari.  Penyiraman dilakukan mulai dari masa pertumbuhan hingga pembentukan polong. Penyiraman mulai dikurangi apabila polong telah terisi penuh.
     f.     Pengendalian hama dan penyakit tanaman
Pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan pada budidaya kedelai joglo tani menggunakan pestisida nabati. Pengendalian dapat berupa preventif artinya sebelum terjadi serangan ataupun pengendalian dilakukan setelah serangan telah terjadi.

    g.     Panen
Panen kedelai dilakukan apa bila tanaman kedelai telah memiliki cari-ciri seperti daun sudah menguning, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat. Umur panen kedelai yang akan digunakan sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75-100 hari, sedangkan untuk dijadikan benih dipetik pada umur 100-110 hari agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata.
Pemanenan di joglo dapat dilakukan dengan dua cara tergantung dengan kondisi tanahnya. Jika tanah riangan dan berpasir makan cara yang digunakan adalah pencabutan. Sedangkan jika tanah dalam keadaan keras, pemanenan dilakukan dengan cara pemotongan menggunakan sabit yang tajam. Pemanenan dengan cara memotong bisa meningkatkan kesuburan tanah, karena akar dengan bintil-bintilnya yang menyimpan banyak senyawa nitrat tidak ikut tercabut, tapi tertinggal di dalam tanah.

C.           Pasca Budidaya
    a.     Penjemuran
Penjemuran polong kedelai dijoglo tani dilakukan selama 3 hari diatas terpal ataupun lantai semen. Lama penjemuran tersebut dilakukan apabila cuaca cerah. Penjemuran dilakukan hingga polong kering sempurna dan merata, sehingga polong kedelai akan mudah pecah dan bijinya mudah dikeluarkan. Saat penjemuran polong dilakukan pembalikan, hal ini dimaksudkan agar polong terjemur sempurna dan banyak biji yang keluar dari polong.
    b.     Sortasi
Sortasi bertujuan untuk memisahkan antara biji dengan polong kedelai. Pemisahaan dapat dilakukan dengan memukul polong dengan kayu secara lansung. Biji yang keluar dari polong dikumpulkan dan ditampi agar bijiterpisah dari kotoran lainnya.Biji yang luka dan keriput dipisahkan. Biji yang bersih ini selanjutnya dijemur kembali sampai kadar airnya 9-11 %. Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung dan dipasarkan atau disimpan.

    c.     Pengepakan
Kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu cukup lama. Pengepakan bertujuan untuk memudahkan penyimpanan. Pengepakan kedelai di Joglo Tani menggunakan karung. Karung-karung kedelai ini ditumpuk pada tempat kering  yang diberi alas kayu agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. Penjemuran dilakukan 2-3 bulan sekali apabila penyimpanan dilakukan dalam waktu lama.

5.1.2   Kegiatan Budidaya Itik (Tambahan)
Budidaya itik akan menghasilkan apabila jenis itik yang digunakana adalah yang berkualitas. Itik yang paling bagus adalah itik dari jenis magelang. Itik jenis ini memiliki tanda lingkaran putih seperti kalung pada leher. Bulu asli itik akan keluar ketika berusia 45 hari..Pada umur 6 bulan ini masa mulai bertelur.
2.        Syarat kandang:
-           Lokasi jauh dari pemukiman dan keramaian
-           Bersih, kering, sirkulasi udara lancer
-           Ada tempat air minum, tempat makan
3.        Pembibitan
Telus bebek yang akan ditetaskan harus :
-           Bentuknya oval (tidak bulat, tidak lonjong)
-           Warna kulit kerabang (tidak berwarna muda ataupun tua)
-           Berat minimal 65 gr
-           Telur diambil dari bebek yang berusia >1 tahun
4.        Pemeliharaan
-           Sanitasi dan tindakan preventif
-           Pemberian pakan
5.        Pembuatan dan pemberian pakan itik
Pakan itik diberikan 2 sampai 3 kali dalam sehari . Pakan itik yang digunakan di joglo tani terdiri dari konsentrat 20%, nasi aking 40%, dan dedak/bekatul 40% dengan perbandingan 1:2:2. Bahan-bahan yang digunakan untuk konsentrat itik petelur: tepung ikan, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung daging dan tulang, pecahan gandum, bungkil kacang tanah, canola, tepung daun, vitamin dan kalsium, fosfat serta trace mineral.
Gambar 1c. Kadang Itik Petelur

5.2         Pembahasan
Praktek kerja lapangan atau magang bertujuan menerapkan ilmu yang diperoleh dari proses perkulian secara lansung, sehingga dapat membandingkan kesesuain teori dengan praktek. Praktek kerja lapangan yang dilakukan di Joglo Tani bertemakan budidaya dengan komditinya yaitu kedelai. Budidaya atau sistem pertanian yang diterapkan dijoglo tani adalah pertanian lestari dengan sebagian input adalah bahan-bahan organik.
Joglo Tani membagi proses budidaya menjadi 3 yaitu pra budidaya, aksi budidaya dan pasca budidaya. Ketiga proses tersebut adalah konsep dasar dalam melakukan budidaya tanaman. Pra budidaya adalah tindakan-tindakan yang dilakukan sebelum melakukan proses penanaman. Kegiatan dalam pra budidaya adalah ekologi tanah. Ekologi tanah dibagi menjadi struktur tanah, tekstur, kemampuan tanah menahan air, kemampuan tanah menahan mineral, aerasi, pH tanah,  dan kandungan mineral tanah. Pada umumnya, untuk mengetahui faktor-faktor tersebut dilakukan di laboratorium, sedangkan di Joglo Tani untuk mengetahuinya cukup menggunakan alat sederhana. Alat sederhana dapat dibuat dari bahan botol, balon, plastik dan sebagainya yang mana penggunaan bahan-bahan tersebut mudah didapatkan dan sebagian besar merupakan barang bekas. Penggunaan alat tersebut mudah dengan indikator yang mudah dipahami.  Selain itu, dalam pra budidaya tindakan lain yang dilakukan adalah pembuatan pupuk organik padat dan cair serta pembuatan pestisida nabati. Pembuatan pupuk organik padat dan cair sebagian  memanfaatkan hasil ternak dan bahan-bahan hijauan di alam. Pembuatan pestisida nabati menggunakan daun-daunan dan bagian tanaman yang lain. Penggunaan pupuk dan pestisida anorganik di Joglo Tani minim dilakukakan.
Aksi budidaya yaitu kegiatan atau tindakan-tindakan yang dilakukan ketika memulai proses penanaman. Aksi budidaya meliputi pengolahan lahan, pembuatan bedengan, seleksi benih, penanaman, perawatan, pengendalian hama dan penyakit, serta panen. Sebagian besar kegiatan aksi budidaya yang dilakukan di Joglo Tani hampir sama dengan yang diterapkan oleh petani pada umumnya. Hal yang berbeda adalah pengaplikasin pupuk dasar, jika biasanya pupuk dasar disebarkan merata di atas bedengan kemudian dicampur dengan tanah tetapi di Joglot Tani pupuk dasar diletakan pada siringan yang dibuat pada bedengan dan kemudian menutupnya dengan tanah. Peberian seperti ini dimaksudkan agar waktu yang digunakan lebih cepat, dan pupuk dasar yang diberikan dalam jumlah yang sama pada setiap bagian bedengan. Pengendalain hama dan penyakit tanaman kedelai di Joglo Tani menggunakan petisidan nabati, penggunaan pestisida anorganik minim dilakukan untuk menghindari efek negatif yang ditimbulkan. Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pemotongan dan pecabutan. Pemanenan yang berbeda ini dipengaruhi oleh jenis tanah. Pemotongan dilakukan pada tanah keras, sedangkan pencabutan dilakukan pada tanah ringan berpasir.
Pasca budidaya adalah proses terakhir kegiatan budidaya tanaman sebelum hasil dijual. Kegiatan pasca panen adalah penangan produk hasil pertanian yang bertujuan mepertahanakan kuantitas dan kualitas hasil. Pasca budidaya kedelai meliputi penjemuran, sortasi dan pengepakan. Kegiatan pasca panen yang diterapkan di Joglo Tani sama dengan proses pasca panen pada umumnya. Artinya, tidak ada perbedaan khusus.
Kegiatan tambahan yang dilakukan di Joglo Tani adalah mengenal secara dekat budidaya itik. Kegiatan ini diambil karena budidaya itik merupakan peluang bisnis jika dikembangkan. Telur itik memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan ayam. Perawatan itikpun tidak sulit, dan cocok untuk usaha rumahan.

VI.        SIMPULAN DAN SARAN

6.1     Kesimpulan
Budidaya kedelai meliputi pra budidaya, aksi budidaya, dan pasca budidaya. Pra budidaya adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum proses penanaman. Pra budidaya terdiri dari ekologi tanah, pembuataan pupuk organik cair (POC), pembuatan pupuk organik padat (POP), dan pembuatan pestisida. Ekologi tanah berkaitan tentang struktur tanah, tekstur tanah, kemampuan tanah menahan air, kemampuan tanah menahan nutrisi, aerasi, pH tanah dan kandungan mineral tanah.
Aksi budidaya tanaman kedelai terdiri pengolahan tanah, pembuatan bedengan, seleksi benih, penanaman, perawatan, pengendalian hama dan penyakit serta panen. Pasca budiaya adalah kegiatan untuk mempertahankan kuantitas dan kualitas hasil produk pertanaian. Pasca budidaya kedelai meliputi penjemuran, sortasi dan pengepakan.

6.2         Saran
Semoga budidaya kedelai di indonesia dapat berkembang cepat dan pesat sehingga produksinya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat indonesia. Selain itu, Joglo Tani sebagai monumen kebangkitan pertanian indonesia, akan selalu menjaga dan menambah maju eksistensinya bagi pertanian indonesia. Terakhir, semoga laporan ini dapat menambah pengetahuan bagi pembaca dan menjadi referensi dalam berbudidaya tanaman kedelai.







 DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2015. Tabel Luas Panen- Produktivitas- Produksi Tanaman Kedelai Indonesia. Diunduh pada. http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php. Diakses 20 Febuari 2015
Cahyono, B. 2007. Teknik Budidaya Dan Analisis Usaha Tani. Aneka Ilmu, Semarang.
Darman. 2008. Kedelai Sumber Pertumbuhan Produksi Dan Teknik Budidaya. Gramedia, Bogor
Panggabean, R. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai. Diunduh pada. http://www.litbang.deptan.go.id/special/publikasi/doc tanaman pangan/kedelai/kedelai-bagian-b.pdf. Diakses 20 Febuari 2015.
Rukmi, 2009. Pengaruh Pemupukan Kalium Dan Fosfat Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Kedelai. Diunduh pada. http://www.umk.ac.id/jurnal/jurnal/201 0/sains%20juni%202010/ Pengaruh %20PEMUPUKAN%20KALIUM%20 DAN%20FOSFAT.pdf. Diakses 20 Febuari 2015.
Sarwanto, A. 2008. Budidaya Kedelai Tropika. Penebar Swadaya, Jakarta.
Septiatin, A. 2008. Meningkatkan Produksi Kedelai Dilahan Kering, Sawah, dan Pasang Surut. Yrama Widya, Jakarta.